TIMES BANGKA BELITUNG, YOGYAKARTA – Program Jogja Cling dari Pemkot Yogyakarta kembali menggaungkan semangat gotong royong warga untuk menjaga kebersihan kota .
Setelah sukses melakukan aksi bersih-bersih di kawasan Pasar Induk Giwangan, kini giliran Jembatan Kleringan yang menjadi sasaran. Aksi ini difokuskan pada pembersihan vandalisme yang memenuhi dinding dan tiang jembatan.
Kegiatan yang digagas oleh Kodim 0734 Kota Yogyakarta ini mendapat dukungan penuh dari masyarakat, swasta, hingga Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta. Bahkan, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo ikut turun langsung bersama warga, aparat TNI, dan komunitas.
Segoro Amarto: Gotong Royong Jadi Kunci
Dalam kesempatan itu, Hasto menegaskan pentingnya semangat gotong royong yang dikenal dengan filosofi Segoro Amarto (Selo, Gotong Royong, Aman, Tertib, dan Ora Minggat).
“Tiada hari tanpa gotong royong. Membersihkan lingkungan jangan hanya mengandalkan anggaran pemerintah. Yang penting ada kesadaran bersama,” ujar Hasto, Jumat (29/8/2025).
Menurutnya, setiap kunjungan ke wilayah sebaiknya tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga diiringi dengan diskusi dan solusi nyata. Dari hasil pertemuan dengan Ketua RW 13 Kampung Jogoyudan, Kelurahan Gowongan, Kemantren Jetis, Pemkot berkomitmen membantu pembuatan dua biopori jumbo untuk mengatasi masalah sampah di kawasan tersebut.
“Satu RW harus punya biopori kolektif. Kalau masih kurang, nanti kita tambah di lokasi lain,” imbuhnya.
Dukungan Swasta: Ubah Kolong Jembatan Jadi Ikon Kota
Tak hanya pemerintah dan warga, dukungan juga datang dari sektor swasta. PT Anisku Group ikut ambil bagian dengan komitmen memperindah kawasan bawah Jembatan Kleringan agar lebih estetik dan ikonik.
“Nanti kami bantu menyulap bawah jembatan ini jadi tempat yang unik, punya nilai seni, dan bisa jadi ikon baru Jogja. Tidak perlu mahal, tapi harus punya ciri khas,” ungkap Andi W. Laurent, pemilik PT Anisku Group.
Andi menambahkan, pihaknya juga akan mengajak mitra swasta lain agar turut berkontribusi, sehingga wajah Kota Yogyakarta semakin bersih, asri, dan menarik tanpa selalu mengandalkan APBN.
Ketua RW 13 Jogoyudan, Bartholomeus Bimo Indharto, menyambut baik langkah Pemkot dan berbagai pihak yang ikut peduli. Menurutnya, persoalan utama di wilayah tersebut adalah sampah yang menumpuk serta corat-coret liar di fasilitas umum.
“Bantuan biopori ini sangat berguna bagi kami, karena sebelumnya belum punya biopori kolektif. Mudah-mudahan masalah sampah bisa segera teratasi,” ujarnya.
Jogja Menuju Kota Bersih, Asri, dan Nyaman
Program Jogja Cling kini tidak hanya fokus pada kebersihan pasar atau jalan, tetapi juga fasilitas publik yang menjadi wajah kota. Dengan sinergi antara pemerintah, TNI, warga, dan pihak swasta, harapannya Yogyakarta bisa semakin nyaman, indah, dan punya lebih banyak ruang publik ikonik.
Semangat kolaborasi inilah yang ingin terus digelorakan. “Kalau pemerintah, warga, dan swasta jalan bersama, saya yakin Jogja bisa jadi kota yang lebih bersih, lebih berbudaya, dan makin dicintai warganya maupun wisatawan,” tegas Hasto. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Jogja Cling, Pemkot Yogyakarta Gandeng Warga Bersihkan Vandalisme di Jembatan Kleringan
Pewarta | : Soni Haryono |
Editor | : Ronny Wicaksono |