Nasi Darurat Malang, Kala Sesuap Bantuan Menyelamatkan Hari Mahasiswa
Di balik akun tiktok dengan username @nasidaruratmalang02, ternyata terdapat banyak harapan untuk mendapatkan sesuap makanan guna mengganjal perut, setidaknya untuk satu hari saja.
MALANG – Di balik akun tiktok dengan username @nasidaruratmalang02, ternyata terdapat banyak harapan untuk mendapatkan sesuap makanan guna mengganjal perut, setidaknya untuk satu hari saja.
Bagi mereka yang kelaparan dan terhimpit realitas ekonomi yang tidak sesuai harapan, Nasi Darurat Malang menjadi pertolongan pertama.
Fadilatus Sholiha, perempuan berusia 27 tahun asal kecamatan Tajinan, kabupaten Malang tersebut tidak sengaja melihat postingan Nasi Darurat Surabaya.
Sesaat jarinya berhenti untuk menggulirkan postingan selanjutnya, sambil merenung memikirkan bagaimana nasib para penerima nasi tersebut dan mulai membandingkannya dengan kehidupannya.
“Waktu itu aku lihat FYP nasi darurat Surabaya, mereka ngasih bantuan dengan nominal Rp18 ribu sekali makan, terus aku mikir kalau aku sekali keluar bisa ratusan ribu, akhirnya aku tertarik juga pengen membantu,” ceritanya kepada TIMES Indonesia, Minggu (9/8/2026).
Hanya satu niat Dila, yaitu ingin membantu mereka yang benar-benar membutuhkan. Setelah mengontak admin akun tersebut, Dila bergegas mengeksekusi niat baiknya.
Awalnya, ia mencari apakah sudah ada akun serupa yang ada di Malang. Setelah ditelusuri lebih jauh, ternyata ada akun serupa, namun postingannya sudah tidak aktif selama beberapa waktu.
Saat akun Nasi Darurat Dila resmi dibuat, puluhan notifikasi chat WhatsApp langsung meramaikan ponselnya. Sesaat dirinya mulai bingung, bagaimana menyeleksi penerima yang benar-benar membutuhkan bantuan?
Dila memutuskan untuk menyeleksi satu per satu nomor yang meminta bantuan kepadanya. Dengan prioritas utama adalah kalangan mahasiswa atau perantau, akhirnya verifikasi tersebut ia lakukan dengan menunjukkan foto KTM/KTP milik penerima bantuan.
“Mereka saya mintain foto KTM/KTP dengan mengeblur NIK-nya dan tanda tangan, saya tanya mahasiswa mana dan jurusan apa,” imbuh Dila sambil bercerita.
Nomor-nomor tersebut menghubungi Dila dengan template yang sama. Diawali dengan perkenalan, kemudian menceritakan latar belakang dan alasan mereka membutuhkan uluran tangan Dila.
Beberapa alasan yang diterimanya seperti mahasiswa yang telat ditransfer oleh orang tua, mereka yang bekerja sambil berkuliah, dan berbagai alasan lainnya.
Dila mematok untuk satu porsi makanan maksimal seharga Rp18 ribu. Selain makanan jadi, Dila juga mengizinkan untuk pembelanjaan bahan makanan dengan nominal yang sama besarnya.
Dalam satu hari, sebanyak puluhan chat nomor masuk di ponselnya. Namun, tidak semua dari mereka lolos verifikasinya.
Dila mengungkap, masih terdapat banyak oknum yang berbuat “iseng” membutuhkan bantuan, padahal kondisi oknum tersebut tidak masuk kategori darurat.
“Banyak juga mereka yang iseng, pinjam nomor temannya buat minta bantuan, ini alasan aku gak mau ngasih bantuan berupa uang. Ini kan judulnya Nasi Darurat, jadi penerima harus dalam keadaan benar-benar darurat,” tekannya.
Untuk mengantisipasi terdapat ulah oknum secara berulang, Dila bersama teman-teman di jalur yang sama yang tergabung dalam komunitas saling memberikan informasi.
Satu cerita penerima Nasi Darurat Malang yang pernah membuatnya terenyuh datang dari salah satu mahasiswa kampus negeri semester akhir. Kala itu, notif mahasiswa tersebut mengagetkan hatinya. Ia bercerita bahwa kondisinya yang berkuliah sambil bekerja.
Namun, ia mengaku belum mendapatkan kiriman dari orang tuanya, sementara uang bekerjanya ditabung untuk membayar UKT tiap semesternya.
“Ada mahasiswa akhir chat saya, dia ngaku kuliah sambil bekerja sebagai driver shopee food. Saat itu dia belum dikirim oleh orang tuanya, sementara uang sisanya ditabung untuk membayar UKT. Namun yang membuat saya terkejut selama ini dia selalu puasa senin-kamis, dan dia udah gak bisa kerja karena akun driver-nya terblokir,” cerita Dila.
Dila pun memverifikasi identitas mahasiswa tersebut. Dilihat dari kondisi yang ditunjukkan kepadanya, Dila merasa bahwa mahasiswa tersebut benar-benar membutuhkan bantuannya. Tak lama, Dila langsung meminta mahasiswa tersebut untuk memesan makanan dengan nominal harga Rp14.700.
Karena merasa terharu, Dila akhirnya memposting cerita mahasiswa tersebut di akun tiktok @nasidaruratmalang02. Tak disangka postingan tersebut ramai hingga membuat petinggi kampus mahasiswa tersebut menghubunginya.
“Saya upload kisahnya di tiktok, saya sensor, gak lama dinotice sama petinggi kampusnya untuk minta dihubungkan dengan yang bersangkutan,” jelasnya.
Tak berselang lama, mahasiswa tersebut menghubungi Dila dengan mengucapkan terima kasih karena berhasil mendapatkan keringanan UKT di kampusnya.
Saat ini, uluran tangan tersebut tidak hanya dari Dila saja, tetapi juga keluarga dan orang terdekatnya. Bahkan, banyak netizen yang mengetuk direct message-nya untuk berdonasi secara sukarela. Dila tidak menolak permintaan tersebut. Baginya, semua orang berhak untuk menebar kebaikan.
Bantuan atas dasar empati dan sisi kemanusiaan tersebut tidak berhenti secara online saja. Dila saat ini rutin memberikan bantuan Jumat Berkah kepada para pencari nafkah di jalanan.
“Sekarang kita rutin berbagi ke ibu-ibu atau bapak-bapak di jalanan, biasanya di sekitar alun-alun atau Matahari,” pungkas Dila. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.